“Bang, gua masuk yaaa.”
Ceklek!
Johan yang sudah mengetahui siapa dibalik suara tersebut, tidak memberi respon apa-apa selain deheman pelan yang bahkan mungkin tidak didengar oleh Hadsa. Adik kecilnya itu memasuki kamar dengan nuansa putih abu-abu miliknya dengan membawa satu kantong kresek putih yang isinya tidak lain dan tidak bukan adalah martabak kesukaan nya. Tak lupa senyuman manis yang tidak pernah terlewat untuk disunggingkan oleh Hadsa ketika ia akan berbicara dengan sang kakak tercintanya.
“Tumben banget mau kesini, kenapa bocah?” tanya Johan karena merasa sang adik ini tumben sekali ingin bermain di kamar miliknya. Pertanyaan Johan dijawab dengan polos oleh Hadsa, “Lo sibuk kuliah, kita jadi jarang ada waktu ngobrol. Gua kangen,”
Deg!
Johan yang mendengar perkataan sang adik pun dengan segera mengubah posisinya yang semula tidur dengan nyaman pada ranjangnya, menjadi duduk tegap menatap Hadsa yang masih berdiri di depan meja kamar miliknya untuk membuka martabak yang ia bawakan.
“Sini, ngobrol sini bocah. Bawa aja itu martabaknya kesini, gapapa kotor besok biar gua cuci.”
Hadsa dengan langkah riang pun mengangkat bungkus martabak kesukaannya untuk ia bawa ke ranjang milik Johan. “Yeay, ayo ngobrolll. Mulai dari gua dulu ya, bang?” ucap Hadsa yang dihadiahi anggukan pelan oleh Johan.
“Gua kangen ayah bunda.” lagi dan lagi, ucapan Hadsa berhasil membuat jantung Johan berdetak dua kali atau bahkan tiga kali lebih cepat dari biasanya. “Kenapa tiba-tiba kangen?”
“Ga tiba-tiba bego. Tiap hari juga gua kangen mereka, bang. Tapi hari ini kangen nya jadi berkali-kali lipat karena gua baru sadar kalo gua lama ga mampir ke rumah baru mereka, hehe. Lo terakhir kesana kapan, bang?”