Samar-samar Bara mendengar bunyi deru motor yang ia duga milik Mahesa mendekat kearah rumah yang sekarang ini berisikan dirinya dan kedua sahabatnya, Hadsa dan Shaka – si pemilik rumah.
Dengan langkah pasti, ia berjalan menuju ke sofa yang berada tepat di samping pintu utama rumah Shaka untuk berjaga jika sekiranya nanti Hadsa memerlukan bantuan darinya entah itu bogeman mentah ataupun yang lain. Shaka yang juga mendengar deru motor berhenti tepat di depan rumahnya, dengan segera beranjak menuju ke dapur – agar ia bisa mencari alasan untuk tidak membukakan pintu.
“Asa, coba bukain pintunya itu. Gua pesen gofood barusan, tinggal terima udah gua bayar.” ucap Shaka yang dibalas decakan malas dari sang empu yang ia suruh, “Itu kan si Bara lebih deket dari pin—”
“Gua mager, Sa. Udah enak tiduran begini, sana lah keluar orang tinggal ambil doang.” ucap Bara memotong.
Dengan langkah gontai, Hadsa beranjak dari duduk nya dan berjalan menuju ke arah pintu utama. Sebelum itu, ia mendekati Bara terlebih dahulu untuk memberikan cubitan kecil di lengannya sembari berkata, “Ilangin sikap mageran lo, jelek. Cuma berapa langkah ini,”
Bara pun hanya memberikan tatapan tajam kepada Hadsa sembari memberikan usapan lembut pada lengannya. Setelahnya, suara pintu diketuk beberapa kali dari arah luar, berhasil kembali menarik perhatian Hadsa untuk segera mengambil pesanan makanan mereka, “Iya pak, sebentar.” ucapnya pada ‘si pengantar makanan’.
Ceklek!
“Hai, Hadsa?”
Hadsa yang terkejut pun dengan segera ingin kembali masuk kedalam, tetapi niat itupun urung ketika ternyata pintu rumah Shaka sudah ditutup dan dikunci terlebih dahulu dari dalam oleh Bara. “Selesaiin masalah lo berdua, dongo. Ga akan gua buka kalo belum kelar,” ucap Bara sedikit berteriak.
“Mau ngapain kesini, kak?” tanya Hadsa tanpa basa basi kepada Mahesa, sosok dibalik suara deru motor dan ketukan pintu tadi.