Tanpa menunggu lama, Mahesa yang sudah tahu dimana keberadaan Hadsa-nya dengan segera menarik jaket yang berada di jangkauannya dan menyambar kunci motor miliknya. Ia khawatir, tak biasanya seorang Hadsa Pradantya menginjakkan kaki di tempat yang biasa kita sebut diskotik itu.

“Sialan, gua nyakitin lo sedalam itu, Sa? Anjing Mahesa goblok.” batin Mahesa merasa kesal dengan dirinya sendiri.

Tak lama kemudian, ia sampai di tempat dimana ia yakini Hadsa berada di dalamnya. Mungkin juga bersama kedua teman dekatnya itu. Dengan segera ia berlari menuju pintu dan ia pun dikejutkan dengan adanya satu pasangan yang sedang bercumbu mesra tepat dihadapannya.

“Anjing jangan sampe Hadsa..”

Sekitar lima menit sudah ia mengitari club tersebut, tapi tetap saja ia belum bisa menemukan dimana keberadaan Hadsa dan teman temannya sebelum samar samar ia mendengar, “GUA BENCI MAHESA. GOBLOK.”

Suara itu, ia yakini adalah milik Hadsa. Dengan sedikit berlari, ia menembus lautan manusia yang sedang menikmati dentuman musik ditengah lantai dansa tempat itu. Dan Gotcha!

*“*Hadsa, ayo pulang.” ucap Mahesa dengan sedikit berteriak sembari ia tarik pinggang Hadsa untuk mendekat ke arahnya. Karena demi apapun, Hadsa sedang menjadi pusat perhatian sekarang. Pelukan Mahesa dipinggangnya, ditepis dengan kasar oleh Hadsa.

“Gua gamau pulang kalo bukan Kak Esa yang jemput. Lo gausah pegang pegang gua, najis.” ucap Hadsa yang setelahnya ia limbung ke badan laki-laki didepannya – Mahesa.

Tak lama setelah itu, Mahesa dikejutkan dengan tarikan kuat pada pundaknya dan dengan tiba-tiba ia mendapatkan bogeman mentah di pipi sebelah kirinya oleh seseorang yang belum ia ketahui siapa, yang membuatnya limbung dan jatuh dengan tidak elitnya.

Sreet! Dugh!