Ketukan dari arah pintu utama membuat Hadsa dengan terpaksa bangun dari kasur nya dan segera beranjak untuk turun. Iya, kamar Hadsa berada di lantai dua.

“BENTAR PAKK INI LAGI JALANN, SABAR DIKITT.” teriaknya dari arah tangga karena ketukan pintu yang kian brutal terkesan tidak sabar.

Ceklek!

Pintu belum sampai terbuka sepenuhnya, tapi Hadsa sudah terdorong ke belakang yang disusul oleh “si kurir” kurang ajar yang memaksa untuk masuk. Belum selesai dari rasa terkejutnya, Hadsa mendapatkan rengkuhan kuat di pinggangnya yang disusul dengan pelukan tak kalah erat pada badannya.

“Anjing ini siapa?!! Main peluk peluk. Lepas bang, wah anjing ini tindak asusila!” teriak dan berontak Hadsa dipelukan orang tersebut.

Rasa basah pada pundaknya berhasil membuat Hadsa terdiam, bingung. Dan astaga, ia baru sadar. Parfum ini, bau ini, milik orang yang berhasil mengacaukan hati nya.

“Kak Esa?”

Panggilan Hadsa dijawab anggukan lemah dari sosok yang sekarang lebih mengeratkan pelukan pada pinggangnya. “Hadsa, gua minta maaf. Maaf karena kemarin gua justru minta lo buat pulang sendiri dan lebih milih lebih denger penjelasan dari Rafis. I’ll explain about it, can i?”

“No, u can’t.” jawab Hadsa tegas yang setelahnya ia melepas paksa pelukan itu untuk melihat wajah Mahedsa lebih jelas. “Mau sampe gimana lagi lo nyakitin gua, Kak? Gua kemarin kan udah bilang, gua aja gatau ini salah apa bener karena kasih lo kesempatan lagi. Terus kemarin? Lo—“ ucapan nya terhenti dikarenakan Mahesa yang dengan tiba tiba memberikan kecupan singkat pada ujung bibirnya.

“Gua kemarin lebih pilih dengerin penjelasannya karena gua sama Rafis selesai tanpa kata udahan, Hadsa. Gua takut dia bakal ganggu hubungan gua kedepannya, karena emang belum gua tegesin masalah hubungan kita ke dia. Dan bener aja kan? Dia berulah karena kirim foto seolah olah itu gua sama dia, ke lo. Bener?”