Pukul 08.15 tepat, Hadsa dan Johan sudah menginjakkan kakinya di tempat yang ia tahu akan digunakan oleh Mahesa dan Rafis untuk mengucapkan janji suci sehidup semati.

Hadsa memperhatikan sekelilingnya dengan seksama. Ia sedikit merasa heran, karena tidak ada satupun foto Mahesa dan Rafis yang dipajang, setidaknya pada beberapa sudut tempat acara berlangsung. Terlalu berlarut larut dalam kebingungan, membuat Hadsa tidak sadar bahwa sedari tadi ia digiring oleh Johan untuk memasuki salah satu pintu di pojok dalam gedung ini.

“Dengerin penjelasan dia, keputusan nya tetep ada di lo, Ca.” ucap Johan tiba-tiba setelah ia mendorong masuk Hadsa ke dalam ruangan asing itu. Hadsa yang masih kebingungan pun mencoba untuk masuk menjelajahi ruangan itu lebih dalam, dan ia dikagetkan dengan kehadiran Mahesa dan juga Rafis disana.

“Johan anjingggg!” batin nya.

“Hi, Hadsa.” sapa Mahesa lembut yang tidak ditanggapi apa-apa oleh Hadsa. Dengan segera, Hadsa berbalik badan dan berniat untuk pergi meninggalkan ruangan ini. Kenapa dia disini? Di ruangan pengantin? Johan sudah gila.

Tapi aksinya digagalkan dengan cengkraman lembut pada lengan sebelah kanan miliknya. Ia yakin bahwa itu adalah Mahesa, tapi ia enggan untuk memutar badan ke-arah laki-laki yang sudah membuat air mata nya terkuras habis akhir-akhir ini.

“Let me explain, Asa. Dengerin penjelasan gua sama Rafis dulu.”

Hadsa yang memang sedari awal memiliki kegundahan di hati mengenai penjelasan dari Mahesa, dengan perlahan berbalik badan untuk menatap kedua calon pengantin yang ternyata sedari tadi melemparkan senyum lembut ke arahnya.

“Gua ga nikah sama Rafis.” ucap Mahesa yang berhasil membuat kerutan heran muncul di dahi Hadsa.

“Tentang butik, gua emang ke butik sama Mahesa, Sa. Dan gua emang beli baju buat gua sama Mahesa.Itu karena baju punya lo udah jadi, ukuran Mahesa ga jauh jauh dari ukuran lo, jadi dia pesen dua tuxedo dengan ukuran yang sama. Dan gua ga pernah bilang kalo gua bakal nikah sama dia, kan?” jelas singkat Rafis kepada Hadsa.