Rentetan acara pernikahan Mahadsa sudah selesai dilaksanakan. Sekarang yang tersisa hanyalah keluarga dan juga teman dekat dari keduanya saja.
Sebenarnya Hadsa bingung, panggung kecil yang berada tepat didepan altar yang mereka berdua gunakan untuk mengucap janji suci tadi, itu untuk apa? Ia pikir, bahwa panggung itu nantinya akan digunakan penyanyi penyanyi yang diundang oleh Mahesa untuk tampil. Tapi, sampai acara selesai, panggung putih berbentuk lingkaran itu tak kunjung diberi jejak kaki oleh siapapun.
Beberapa saat larut dalam pikirannya, tiba-tiba seluruh lampu dalam gedung, mati. Hadsa yang kebingungan dengan segera melingkarkan tangannya pada lengan sebelah kiri Mahesa, ia sedikit takut gelap, omong-omong.
Tak lama setelah itu, panggung kecil yang baru saja ia pikirkan, menyala dengan sangat terang. Ah, ternyata bukan panggung! Itu adalah lampu berukuran besar berwarna putih, yang memang sengaja Mahesa pesan untuk hari bahagia keduanya.
Tiba - tiba, salah satu lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi kondang Ed Sheeran pun diputar oleh siapapun itu, entah, Hadsa pun tidak tahu.
Hadsa menutup mulut dengan kedua tangannya karena tiba tiba lampu putih tersebut meredup dan memunculkan kedua sosok orangtua nya —walau sedikit samar.
Al Technology.
Ini adalah nama teknologi yang dipesan khusus oleh Mahesa kepada ahlinya. Ia meminta untuk sang ahli “menciptakan kembali” kedua sosok paling berharga di hidup Hadsa, Ayah dan Bunda.
Memang tidak sama persis, namun hal ini sangat jauh dari perkiraan Hadsa. Ia tidak pernah membayangkan kedua orangtua nya bisa “hadir” disini. Johan yang sedari tadi duduk tepat di samping lampu tersebut, dengan segera berdiri dan menatap lekat orangtua nya yang dengan mesra berdiri disana.
Karena ingin melihat dengan lebih jelas, Johan pun berjalan cepat ke atas altar, dan berdiri tepat di samping Mahesa. Ia merengkuh tubuh mungil sang adik yang dari beberapa saat yang lalu sudah menitikkan air matanya, lagi.